Monday, 19 August 2013

cahaya diatas cahaya 15;-PENUTUP

[1]
Ya Allah, jikapun akhirnya keretaku terjungkir dan macet, tidaklah bakal Engkau tutup jalan untuk kembali pulang kehadirat-Mu. Jikapun aku sungguh-sungguh tersesat memilih jalan, pastilah Engkau telah menyediakan sejuta ampunan-Mu. Jikapun putus kepalaku sebelum selesai kubangun Rumah-Mu, pastilah Engkau dirikan kerajaan-Mu dan saat itu juga Engkau menjadi kepalaku.
[2]
Tidak ada paksaan untuk mempercayai kalimat-kalimat ijtihad ini, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Barang siapa yang melakukan ijtihad, maka sesungguhnya ia memiliki akal yang kuat untuk memahami ilmu-ilmu yang menuntunnya kepada Allah.
[3]
Janganlah engkau bergantung kepada ku, karena sesungguhnya aku hanya tau sedikit tentang sedikit hal. Sedang orang lain ada yang tau banyak tentang sedikit hal, ada yang tahu sedikit tentang banyak hal. Bahkan ada yang tau banyak tentang banyak hal.
[4]
Ya Allah.
Tanami ladang anakku dengan keinsyafan Adam, ketahanan Nuh, kecerdasan Ibrahim, ketulusan Ismail, kebersahajaan Ayub, kesabaran Yunus, kelapangan Yusuf, kesungguhan Musa, kefasihan Harun, kebeningan Khidir, kesucian Isa, kematangan Muhammad.
Ya Allah , tanamilah ladang anakku, tanamilah ladang anak ku.
[5]
Wahai anakku janganlah engkau bicara ini-itu. Pelajari kitab Tauhid dan carilah guru Mursid[1], bahkan tujuh kitab dan tujuh guru. Buktikan apakah bacaan ini membawa dirimu kedalam kegelapan atau membimbingmu ke jalan yang terang menuju Tuhanmu.
[1] Guru Murshid ialah ulama yang mengajarkan ilmu tentang ke-Esaan Allah, diantaranya bercirikan memahami betul ilmu Tauhid, zuhud terhadap kehidupan dunia, ahli berbelas kasihan pada makluk Allah.
[6]
Apabila karena ilmu ketuhidtan mu, engkau dihina, dilempar batu, bahkan dianggap gila oleh kaum mu sendiri, maka jangan heran, cukuplah engkau berdoa bagi mereka "Allahumma Ihdi Qawmi fa innahum la ya'lamun [1]", artinya, “Wahai Tuhan, berilah petunjuk kepada mereka, karena mereka tidak tahu”.
[1] Doa Rasulullah ketika dilempari batu dan dicaci maki di kota Taif.
----------Selesai

cahaya diatas cahaya 14;-UNTUK TIAP UMAT DIBERIKAN JALAN YANG TERANG

[1]
"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang[1]. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat,  tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombala berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya[2], lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu[3]-[4]”.

Dan sesungguhnya Allah mencintai agama yang lurus  dan toleran.
[1] Jalan yang terang maksudnya agama-agama yang dibawahkan oleh para Nabi dan Rasul.
[2] Pada akhirnya semua umat yang berbeda-beda agama akan dikembalikan semuanya kepada Allah tanpa membeda-bedakan satu umat dengan umat yang lain.
[3] Segala perselisihan diantara pemeluk agama adalah hal yang sudah menjadi ketetapan Allah dalam sejarah umat manusia.
[4] QS.Al Maa’idah: 48.

[2]
Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat (Allah) bagi kaum yang memikirkan[1]”.

Allah menciptakan makluk dimuka bumi dengan beraneka ragam, masing-masing makluk diciptakan dengan berpasang-pasangan. Tidaklah ada kekuatan apapun yang bisa merubahnya.

Apabila Allah berkuasa menciptakan buah-buahan yang berpasang-pasangan, maka Allah jualah yang berkuasa menciptakan manusia itu mukmin atau manusia itu kafir, manusia itu baik atau manusia itu buruk. Dan Allah berkuasa atas perubahan yang ada di hati manusia untuk menjadikannya terang hatinya setelah gelap, dan menjadikannya gelap setelah terang hatinya. Tidak ada sedikitpun yang luput atas kehendak Nya.
[1] QS. Ar Ra’d: 3."Wafii al-ardhi qitha'un mutajaawiraatun wajannaatun min a'naabin wazar'un wanakhiilun shinwaanun waghayru shinwaanin yusqaa bimaa-in waahidin wanufadhdhilu ba'dhahaa 'alaa ba'dhin fii alukuli inna fii dzaalika laaayaatin liqawmin ya'qiluuna " .

[3] 
Allah memberikan kelebihan kepada manusia yang dikehendaki-Nya sehingga mereka mempunyai tingkat kelebihan yang berbeda disisi Allah. Kelebihan Allah yang diberikan kepada mereka yang dikehendaki diluar kebiasaan dan akal manusia lainnya.

Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya [1]”.

Para Rasul mendapat Risalah [2], yaitu kelebihan dengan jalan mendapat Wahyu dari Allah untuk bekal menyampaikan dan mengajak menyembah Allah dan memberantas kemusyrikan. Para Rasul mendapat mu'jizat, yaitu kemampuan luar biasa yang diberikan Allah sehingga mempunyai keunggulan dari rata-rata kaumnya [3].

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan dia dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat [4]”.

Para Nabi mendapat Nubuwah [5], yaitu kelebihan dengan jalan mendapat Ilham dari Allah untuk bekal menyampaikan kebenaran.

Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Daud[6].

Sedang para Wali Allah mendapat Karamah [7]  dengan jalan mujahadah dalam mengolah batin agar mencapai ma’rifat hingga mampu membuktikan  keagungan dan kebenaran Allah.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa [8]”.

Sedang para Shalihin [9] (orang-orang yang salih), mereka mendapat Ma'unah [10] karena keimanan dan ketaqwaan mereka kepada Allah, dan Allah meninggihkan beberapa derajat pengetahuanya.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [11]”.

Dan Allah juga memberikan Fadilah [12], Irhas [13] serta kelebihan-kelebihan lain kepada siapa saja yang Ia kehendaki.
[1] QS. Al Baqarah: 90.
[2] Risalah adalah mandat kerasulan.
[3] Mu’jizat para Rasul terbagi atas dua,yaitu Mu’jizat Kauniyah dan mu’jizat Aqliyah. Misalnya tongkat Nabi Musa yang dapat  menjelma menjadi seekor ular besar adalah salah Mu’jizat Kauniyah. Sedangkan sesuatu yang memerlukan akal yang cerdas untuk memahami ayat-ayat Allah (kitab-kitab suci) itu dinamakan Mu’jizat Aqliyah.
[4]  QS. Al Baqarah: 253.
[5] Nubuwah adalah mendat kenabian.
[6] QS. Al Al Israa': 55.
[7] Karamah adalah kejadian luar biasa yang di berikan Allah kepada hamba yang saleh dan biasanya terkait dengan dakwah
[8] QS. Yunus: 62-63.
[9] Shalihin adalah orang-orang yang salih.
[10] Ma'unah adalah perlindungan yang diberikan oleh Allah karena disitu ada hambanya yang sholeh dan dikasihi
[11] QS. Al Mujaadilah: 11.
[12] Fadilah adalah keutamaan.
[13] Irhas adalah kejadian istimewa pada diri seorang calon rasul. Misalnya ketika nabi Yusuf dibuang kesumur oleh saudara-saudara nya dengan harapan agar meninggal dan lenyap, malah oleh Allah diangkat derajatnya hingga menjadi penguasa negeri Mesir.

[4]
Apakah Pluralisme? Pluralisme adalah kehidupan bersama dalam kemajemukan dimana masing-masing menjalankan dan menghormati hak atas orang lain. Dan Pluralisme saat ini diartikan lebih sempit, yaitu kemajemukan dalam arti agama yang berbeda-beda. Bahkan lebih menyimpang lagi, bahwa pluralisme adalah persekutuan antar agama-agama.

Apakah engkau tidak bisa membedakan antara pluralisme dan singgularisme?

Al-Qur'an jelas mengatakan " Lakum diinukum waliya diini [1]", dalam bahasa yang sederhana yaitu kerbau tetap menguak, ayam tetap berkokok, sapi tetap melenguh, kambing tetap mengembik, anjing tetap menggonggong.

Bukanlah pluralisme tapi singgularisme apabila  kerbau, ayam, sapi, kambing semuah binatang yang lain bersuara sama.

Mentang-mentang kerbau kelompok binatang yang paling besar maka memaksa semua jenis binatang harus menguak, maka golongan kerbau tidak memahami bahwa " Laa ikraaha fii alddiini ", tidak ada paksaan dalam agama, "Qad tabayyana alrrusydu mina alghayyi [2], sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.

Demikianlah Allah menunjukkan ke-Esa-an-Nya dengan menciptakan segala sesuatu bentuk yang plural. Sesungguhnya demikian itu adalah tanda-tanda nyata bagi kaum yang berakal.
[1] QS. Al Kaafiruun: 6.
[2] QS. Al Baqarah: 256.

[5]
Allah menurunkan hujan dari langit lalu dihasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Demikian pula Allah menciptakan manusia di bumi dengan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berbagai macam budaya, dan juga dengan berbagai petunjuk. Maka manusia yang paling mulia diantara meraka adalah orang yang paling bertaqwa.

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya [1]”.

Dan Allah berkata, “Yaa ayyuhaa alnnaasu innaa khalaqnaakum min dzakarin wauntsaa waja'alnaakum syu'uuban waqabaa-ila lita'aarafuu inna akramakum 'inda allaahi atqaakum inna allaaha 'aliimun khabiirun - Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu [2]".

Demikian pula dikatakan, “Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat [3]”.

Gunung-gunung yang dimaksud tidak lain adalah hati manusia yang beraneka macam keimanannya, bahkan ada pula yang hitam pekat, yaitu tidak beriman sama-sekali (kafir).
[1] [3] QS Faathir: 27.
[2] QS Al Hujuraat: 13.

[6]
Laysa albirra an tuwalluu wujuuhakum qibala almasyriqi waalmaghribi walaakinna albirra man aamana biallaahi waalyawmi al-aakhiri waalmalaa-ikati waalkitaabi waalnnabiyyiina waaataa almaala 'alaa hubbihi dzawii alqurbaa waalyataamaa waalmasaakiina waibna alssabiili waalssaa-iliina wafii alrriqaabi wa-aqaama alshshalaata waaataa alzzakaata waalmuufuuna bi'ahdihim idzaa 'aahaduu waalshshaabiriina fii alba/saa-i waaldhdharraa-i wahiina alba/si ulaa-ika alladziina shadaquu waulaa-ika humu almuttaquuna "

"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa[1]”.

Menghadapkan wajah ke arah timur dan barat  dapat diartikan megikuti ajaran atau jalan agama tertentu. Dan setiap jalan agama memiliki aturuan atau rambu-rambu yang berbeda[2].

Allah menyangkal bahwa untuk berbuat kabajikan bukanlah hanya terikat oleh satu arah (aturan) tertentu, yang dikatakan dalam bunyi ayat “Laysa albirra an tuwalluu wujuuhakum qibala almasyriqi waalmaghribi - Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan".

Tetapi sesungguhnya berbuat kebajikan itu oleh siapa saja tidak memandang kemana aturan yang dianut (arah menghadap), asalkan mereka beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Meraka semua yang berbeda beda arah menghadap (agama) apabila mengerjakan amal ibadah akan menerima pahala dari Allah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati[3]”.
[1] QS. Al Baqarah: 177.
[2] Setiap agama memiliki arah menghadap yang berbeda beda, misal Islam menghadap kiblat untuk sholat.
[3] QS. Al Baqarah: 62.

[7]
Sesungguhnya Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah diturunkan bersama rasul-rasul  yaitu Al Kitab (neraca) supaya masing-masing umat dapat melaksanakan keadilan.

" Laqad arsalnaa rusulanaa bialbayyinaati wa-anzalnaa ma'ahumu alkitaaba waalmiizaana liyaquuma alnnaasu bialqisthi - Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan[1]".

Ajaran dan tuntunan yang telah Muhammad dan Rasul-Rasul sampaikan itulah saksi dari umat mereka. Dan Al-Qur'an serta Al-Kitab dari para Rasul adalah neraca keadilannya.

" Wanaza'naa min kulli ummatin syahiidan faqulnaa haatuu burhaanakum fa'alimuu anna alhaqqa lillaahi wadhalla 'anhum maa kaanuu yaftaruuna  - Dan Kami datangkan dari tiap-tiap umat seorang saksi[2], lalu Kami berkata "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu", maka tahulah mereka bahwasanya yang hak itu[3] kepunyaan Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulunya mereka ada-adakan[4]".
[1] QS. Al Hadiid: 25.
[2] Saksi di sini ialah rasul yang telah diutus kepada mereka waktu di dunia.
[3] Maksudnya: Di waktu itu yakinlah mereka, bahwa apa yang telah diterangkan Allah dengan perantaraan rasul-Nya itulah yang benar.
[4] QS. Al Qashash: 75.

[8]
Allah memberikan petunjuk melalui aturan agama dengan perumpamaan ayat-ayat yang menjelaskan kejadian yang ada di bumi, yaitu tumbuh beraneka jenis tanaman dan buah-buahan yang berasal dari air hujan yang telah diturunkan-Nya dari langit. Dan hal itu tidak dipahami kecuali oleh kaum yang mau memikirkan.

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan[1] itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan[2]. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ayat-ayat Allah bagi kaum yang mikirkan[3]".

Kalau Tuhan menumbuhkan dari air hujan berjenis-jenis tanaman dan buah-buahan beraneka rasa di bumi, apalagi menciptakan manusia di bumi yang sama. Pastilah berlainan budaya, bahasa, warna kulit, agama dan keimanan.

Sesungguhnya Allah hendak menguji manusia terhadap pemberian-Nya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali manusia semuanya, lalu diberitahukan Nya kepada manusia apa yang telah mereka perselisihkan[4].
[1] Air hujan dapat diartikan sebagai petunjuk dari langit.
[2] Buah-buahan adalah perumpamaan agama-agama yang berkembang di bumi.
[3] QS. An Nahl: 11.
[4] Diambil dari QS. Al Maa'idah: 48.

[9]
Gaya bahasa al-Qur'an yang istimewa membuat setiap kata ayat yang digunakan memiliki kemungkinan makna yang beragam dan memberikan penafsiran yang tidak tunggal (multi tafsir). Dan itu menjadi mungkin karena al-Qur'an diturunkan tidak hanya untuk umat Islam saja, akan tetapi untuk semua umat manusia. Maka demikian juga tentang kemajemukan jalan agama menuju Tuhan, mereka berselisih pendapat; ada yang menolak bahwa Islam adalah agama yang mengakui pluralisme dan ada yang menerima bahwa Islam adalah agama yang mengakui pluralisme.

Hal itu terjadi karena memang Allah menghendaki untuk menciptakan manusia menjadi umat yang bermacam-macam atributnya[1], sehingga mereka saling berbantah-bantahan dan senantiasa berselisih pendapat tentang pendapat masing-masing, kecuali mereka yang diberi rahmat oleh Allah sehingga mengetahui bahwa apapun perbedaan adalah sunahtullah.

Walaw syaa-a rabbuka laja'ala alnnaasa ummatan waahidatan walaa yazaaluuna mukhtalifiina, illaa man rahima rabbuka walidzaalika khalaqahum watammat - Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu[2]”.

Bahkan Allah-lah yang menghendaki mereka sampai berbunuh-bunuhan satu-sama lain sesudah datangnya Rasul-Rasul yang telah diutus-Nya.

" Walaw syaa-a allaahu maa iqtatala alladziina min ba'dihim min ba'di maa jaa-at-humu albayyinaatu walaakini ikhtalafuu faminhum man aamana waminhum man kafara walaw syaa-a allaahu maa iqtataluu walaakinna allaaha yaf'alu maa yuriidu - Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada pula di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya[3]".
[1] Ciri-ciri yang membedakan; perbedaan bangsa, perbedaan suku, perbedaan sosial budaya, perbedaan wilayah, perbedaan kecerdasan, perbedaan bahasa, terutama perbedaan agama dan  kepercayaan terhadap Tuhan mereka.
[2] QS. Hud: 118-119.
[3] QS. Al Baqarah: 253.

[10]
Al –Qur’an banyak menceritakan kisah  Nabi-Nabi dan umatnya, dan tidak diceritakan kisah tersebut kecuali sebagai petunjuk bagi kaum yang mau berpikir.

Dan ingatlah ketika Nabi Musa memohon untuk kaum Bani Israil yang terbagi menjadi dua belas suku. Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa untuk masing-masing suku agar diberi petunjuk[1].

Allah menyuruh Musa “Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sehingga tiap-tiap suku telah memiliki pentunjuk masing-masing.  Dan Allah memberikan naungan[2] petunjuk diatas mereka serta manna dan salwa[3], sehingga Allah melarang agar mereka berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. Sehingga apabila mereka berbuat aniaya di muka bumi, maka sesungguhnya mereka itu berbuat aniaya kecuali terhadap diri mereka sendiri.

Waqaththha'naahumu itsnatay 'asyrata asbaathan umaman wa-awhaynaa ilaa muusaa idzi istasqaahu qawmuhu ani idhrib bi'ashaaka alhajara fainbajasat minhu itsnataa 'asyrata 'aynan qad 'alima kullu unaasin masyrabahum wazhallalnaa 'alayhimu alghamaama wa-anzalnaa 'alayhimu almanna waalssalwaa kuluu min thayyibaati maa razaqnaakum wamaa zhalamuunaa walaakin kaanuu anfusahum yazhlimuuna - Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri[4]”.
[1] Petunjuk tersebut diumpamakan sebagai mata air.
[2] Naungan tersebut diumpamakan awan yang ada diatas kaum Bani Israil.
[3] Manna dan salwa tersebut adalah perumpamaan aturan-aturan (hukum) yang baik.
[4] QS. Al A’raaf: 160, demikian juga terdapat pada QS. Al-Baqarah: 60.

[11]
Janganlah sekali-kali kebencian terhadap sesuatu kaum, mendorong untuk berlaku tidak adil. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa[1].

Dan berperanglah di jalan Allah terhadap orang-orang yang memerangi orang-orang mukmin, tetapi jangan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[2].

Disebabkan rahmat dari Allah, maka tetap berlakulah lemah lembut terhadap orang-orang kafir. Sekiranya bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari orang-orang mukmin. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusan itu[3].
[1] Diambil dari QS. Al Maa'idah: 8, "Walaa yajrimannakum syanaaanu qawmin 'alaa allaa ta'diluu i'diluu huwa aqrabu lilttaqwaa". 
[2] Diambil dari QS. Al Baqarah: 190, "Waqaatiluu fii sabiili allaahi alladziina yuqaatiluunakum walaa ta'taduu inna allaaha laa yuhibbu almu'tadiina".
[3] Diambil dari QS. Ali 'Imran: 159, "Fabimaa rahmatin mina allaahi linta lahum walaw kunta fazhzhan ghaliizha alqalbi lainfadhdhuu min hawlika fau'fu 'anhum waistaghfir lahum wasyaawirhum fii al-amri ".
Allah mencintai agama yang lurus dan toleran

Blogroll